Tuesday, September 11, 2012

KELIRU MAKNA “INSYA ALLAH”

Soalan:

Bolehkah ustaz menjelaskan makna dan fungsi sebenar kalimat insya Allah dalam Islam? Sebab saya sering menjumpai beberapa orang menggunakan kalimat ini sebagai alasan untuk tidak melaksanakan janji. Sehingga setiap kali mendengar seseorang berjanji sambil mengucap:  insya Allah, saya merasa tidak pasti janji itu akan ditepati.

Jawab:
Sebelum kita menyelami makna sebenar yang terkandung dalam kalimat “insya Allah”, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu melihat sejarah penggunaan kalimat ini.

Jika kita amati ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata kalimat insya Allah telah digunakan oleh nabi-nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad Saw. Apabila Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail, anak yang saleh ini berkata: “Wahai bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.” (Qs Al-Saffat ayat 102).

Begitu juga ucapan Nabi Musa apabila beliau berjanji kepada Nabi Khidir untuk patuh kepada semua arahannya sepanjang perjalanan menuntut ilmu. Nabi Musa berkata: “Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang bersabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (Qs Al-Kahfi ayat 69).
Kalimat ini kemudiannya diwariskan kepada Nabi Muhammad Saw. Allah memerintahkan baginda untuk selalu mengucapkan insya Allah setiapkali berjanji akan melakukan sesuatu di masa hadapan. Allah berfirman: “Dan jangan sekali-kali engkau (Muhammad) mengatakan: ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok’, kecuali (dengan menyebut): insya Allah...” (Qs Al-Kahfi ayat 23-24)

Menurut Ibn Jarir Al-Tabari, ayat ini berisi pengajaran adab untuk Nabi Saw. Beliau dilarang untuk memastikan apa yang akan terjadi di masa hadapan melainkan dengan menyandarkannya kepada kehendak Allah. Sebab segala sesuatu hanya boleh berlaku apabila dikehendaki oleh Allah Swt.
Pengajaran ini tentu sahaja bukan khas untuk Baginda Nabi seorang. Akan tetapi, adab ini juga berlaku untuk seluruh umat baginda hingga akhir zaman. Seorang mukmin yang menyadari hakikat dirinya sebagai hamba yang lemah tidak pernah berjanji melainkan dengan menyebut insya Allah.

Makna insya Allah
Jadi, kita boleh melihat bahawa kalimat insya Allah merupakan sunnah nabi-nabi terdahulu yang diwariskan kepada umat Nabi Muhammad Saw. Justeru, kalimat ini bukan perkara ringan, malah ianya mengandungi makna yang sangat penting untuk disedari.

Secara harfiah, kalimat insya Allah bermakna “jika Allah menghendaki”. Ucapan ini melambangkan  kesadaran hamba akan hakikat dirinya yang serba kekurangan dan jahil. Sekaligus mengiktiraf kekuasaan Allah Swt yang Maha Kuasa dalam menentukan setiap yang berlaku di alam semesta ini.
Sepandai apapun seorang manusia, ia hanya boleh merancang dan berharap. Allah juga yang akan menentukan apakah rancangan dan harapan itu boleh terlaksana ataukah tidak?

Ucapan insya Allah ini mencerminkan pengakuan atas kelemahan diri dan ketergantungan kepada belas kasih tuhannya agar selalu membantu dalam setiap keinginan dan niatannya.
Siapa yang selalu menyadari kelemahan dirinya, Allah akan selalu hadir dalam hidupnya. Dan siapa yang merasa dirinya serba cukup dan berkuasa atas segalanya, ia akan lupa diri dan berakhir seperti Firaun dan Namruz yang mengaku diri sebagai tuhan.

Berkata Imam al-Syafi‘i: “Kelemahan adalah sifat manusia yang paling jelas. Sesiapa yang selalu menyedari sifat ini, dia akan beroleh istiqamah dalam beribadat kepada Allah.”

Kekeliruan
Jelaslah, ucapan insya Allah sama sekali bukan alat untuk melepaskan tanggung jawab atau alasan untuk tidak menepati janji. Sebagai seorang muslim, janji adalah hutang yang mesti kita tunaikan. Ucapan ini juga bukan kalimat alternatif untuk menolak secara halus permintaan pihak yang ingin kita jaga hatinya.

Sebaliknya, insya Allah lebih sesuai difahami sebagai kata-kata jaminan bahawa janji yang telah terucap akan akan terlaksana dengan baik. Sebab siapa yang berjanji dengan niat sungguh-sungguh untuk melaksanakannya, sambil menyerahkan perkara itu kepada Allah, bantuan dari Allah akan datang untuk mewujudkan janji tersebut.
Dalam hadis Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw pernah bercerita: “Nabi Sulaiman bin Dawud berkata: ‘Malam ini aku akan mendatangi 90 orang isteri-isteriku. Setiap daripada mereka pasti akan melahirkan seorang pejuang di jalan Allah.’

“Malaikat berkata kepadanya: ‘katakanlah insya Allah.’ Namun Nabi Sulaiman tidak mengucapkan kalimat ini. Akhirnya, tidak ada seorangpun daripada isteri-isterinya itu yang melahirkan anak. Hanya seorang isteri yang melahirkan, namun anak itu cacat dan tidak sempurna.”
Bersabda Nabi Saw: “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai beliau mengucapkan: insya Allah, niscaya isteri-isterinya itu akan melahirkan anak-anak yang berjuang di jalan Allah.”

Berkata Ibn Battal Al-Maliki dalam Syarh Al-Bukhari: “Hadis ini mengandungi pengajaran bahawa sesiapa yang mengucapkan insya Allah, sambil menyadari kelemahan dirinya dan meminta bantuan dari Allah, maka besar kemungkinan ia akan memperolehi apa yang diharapkannya.”
Maka menjadi kewajiban kita merubah kekeliruan ini dengan memulainya dengan diri kita. Pastikan selalu kalimat insya Allah diucapkan setiapkali berjanji. Selepas itu berusahalah sedaya upaya untuk menepati janji itu sambil meminta bantuan daripada Allah Swt. Jika semua ini kita lakukan, maka bantuan dari Allah akan sentiasa mengalir untuk kita.

Kalau bukan kita yang merubah persepsi negatif tentang Islam dan kaum muslimin, maka siapa lagi? Wallahu a’lam.
 
Diterbitkan dalam Surat Kabar Utusan Malaysia, Selasa 11 Sept 2011.

6 comments:

  1. Assalamualaikum,

    Saya pernah ditanya oleh seorang lelaki non-muslim berkenaan dgn kalimat 'InsyaAllah'. Dia mengatakan bahwa dia selalu mendengar rakan2 Melayu nya menyebut kalimat ini. Pabila dia bertanyakan ttg 'apakah maksud InsyaAllah?', rakan2 Melayunya mengatakan kalimat itu bermaksud seperti 'mungkin' @ bunyi maksudnya seperti 'tengoklah macam mana'... Saya yang mendengar ceritanya berasa malu dengan segelintir umat Islam sendiri yang tidak mendalami maksud setiap kalimat yang disebut2. Seolah-olah kalimat2 yang disebut itu hanyalah seperti ungkapan harian biasa yang tidak memberi maksud untuk kehidupan mereka. Dan jelas disini masih ada segelintir muslim yang belum memahami apa itu 'Islam'. Wallahu'alam. Terima kasih di atas artikel yg menarik dan bermanfaat. Jazakallahu Khayran~

    ReplyDelete
  2. Salamalaikum.

    Ada sebab kenapa kalimah In Sha Allah ada macam perasan "tgk lar macam mana".

    Bila kita berjanji dgn kalimah In Sha Allah, kita merasakan yang ketentuan itu milik Allah. Boleh jadi kita janji nak jumpa minggu depan tapi esok kita kemalangan. Itu sbb janji itu ada bunyi-bunyi seperti "tgk lar macam mana". WA.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah... ilmunya bermanfaat nih...
    memang ucapan 'InsyaAllah' sebenarnya bukanlah perkara ringan...
    maka, mulailah kita belajar utk lebih memaknainya...

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaikum.
    Ustadz mohon ijin Ana ingin bertanya. Jadi disuatu internet ada seorang Ustadz mengeluarkan pendapat seperti ini :

    kita sepatutnya tidak menulis "insyaalloh" ataupun "insyalah" karena ia bermaksud "cipta/buat/mewujudkan Allah"
    (Naozobil lah)

    Tapi pastikan kita tulis In Shaa Allah
    (dalam 3 kata perkataan)
    yang membawa maksud "Dengan izin Allah"

    Jadi.. Pastikan Anda semua "foward" kepada & tolong mereka membetulkan kesilapan yang sama

    JazakaAllah khir
    In Shaa Allah

    Nah ustadz dari teks diatas, Ana sungguh2 meragukan, apa itu benar2 Shahih atau dha'if???

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bermanfaat
      http://www.konsultasisyariah.com/tulisan-insya-allah-yang-benar/

      Delete
  5. Assalamualaikum. Jangan kita keliru dengan cara mentafsirkan ayat-ayat Al Qur'an. Insya'Allah atau In Sha Allah tetap mendatangkan maksud 'Jika di izinkan Allah', tetap jikalau kita tukar tulisan Arab nya menjadi 'Unsha Allah' barulah maknanya menjadi Create Allah atau Cipta Allah. Jadi yang penting ialah tulisan huruf Arab itu yang penting dan harus rapi.

    Allahu Robbi Ya Alim ul Hamid.

    ReplyDelete