Tuesday, March 8, 2011

KITAB "MUSNAD AL-SYAFI'I" BUKAN KARYA IMAM AL-SYAFI'I

Belum lama ini, saya membaca sebuah diskusi seputar Imam Al-Syafii dan Hadis. Dalam diskusi ilmiah yang hangat itu, Saya melihat seolah ada kekeliruan dari sebahagian peserta diskusi yang mengira bahawa kitab Musnad al-Syafii adalah benar-benar hasil tulisan Imam Al-Syafii. Lebih parah lagi, sebahagian menyangka bahawa hadis-hadis yang dimiliki oleh Al-Syafii hanya terbatas hanya pada yang tercantum di dalam kitab ini sahaja. Oleh itu, apabila suatu hadis tidak terdapat dalam buku kecil ini (hanya satu jilid), maka lalu disimpulkan bahawa Al-Syafii tidak mengetahui hadis tersebut.

Bagi saya, ini merupakan kesalahan besar. Imam Al-Syafii tidak pernah menulis kitab Musnad, dan pengetahuan beliau tentang hadis-hadis Nabi Saw tidak terbatas pada apa yang terkandung dalam buku ini.

Siapa Penulis Musnad?

Musnad Al-Syafi'i pertama kali dicetak di Arrah tahun 1306 H, kemudian dicetak di Kairo di tepi jilid ketujuh kitab Al-Umm pada tahun 1327 H. Kitab ini memang berisi hadits-hadits yang diambil dari buku-buku Al-Syafii. Namun begitu, ulama sehebat Imam Al-Baihaqi sendiri tidak dapat menegaskan siapa penulis kitab ini. Sekali waktu ia berkata bahwa pengumpul hadits-hadits ini adalah Abu Al-Abbas Muhammad bin Ya'qub Al-Asham, tapi pada kesempatan lain ia berkata bahwa pengumpulnya adalah Abu 'Amr Muhammad bin Ja'far bin Mathar Al-Naisaburi, atau orang lain.[1]

Ketidak tegasan itu menyebabkan orang-orang setelahnya berbeda pendapat menentukan siapa penulis buku ini. Ibn Al-Atsir, Al-Rafi'i, Al-Dzahabi dan Haji Khalifah berpendapat penulis kitab ini adalah Abu Al-Abbas Al-Asham.[2] Sementara Ibn Katsir, Ibn Hajar, Al-Sakhawi dan Al-Kattani berpendapat bahwa penulisnya adalah Abu 'Amr Ibn Mathar Al-Naisaburi.[3]

Selain identiti penulisnya yang misterius,objektif dan metode penulisan kitab inipun tidak jelas. Kita tidak mungkin mengatakan bahwa tujuan penulisan buku ini adalah menghimpun semua hadits-hadits yang dimiliki oleh Al-Syafi'i sebab "Musnad Al-Syafii" ini hanya berisi 500 hadits sementara hadits-hadits yang dimiliki Al-Syafii –bahkan  hadits-hadits yang ia dengar dari Ibn 'Uyainah saja- jauh lebih banyak dari jumlah ini.

Ibn Al-Atsir mengungkapkan ketidak-jelasan maksud penulisan buku ini dengan berkata, "Hadits-hadits yang terdapat di buku ini bukan semua hadits yang dimiliki oleh Al-Syafi'i, tidak juga semua hadits-hadits yang ia gunakan sebagai dalil, atau semua hadits yang terdapat di buku-buku Al-Syafi'i. Aku tidak mengerti apa tujuan Al-Asham hanya menyebutkan hadits-hadits ini lalu memasukkannya ke dalam kitab yang ia namakan 'Musnad Al-Syafi'i'. Mungkin ia mempunyai maksud yang saya tidak tahu, sebab maksud dan tujuan ulama sangat banyak dan bermacam ragam."[4]

Metode penulisan dan penyusunan hadits-hadits yang terdapat dalam buku inipun tidak teratur sehingga kita mendapati pengulangan hadits tanpa faidah. Agaknya, penulis buku ini memilih hadits-hadits yang ia temukan di buku Al-Syafii lalu menulisnya tanpa metode susunan tertentu. Kondisi ini mendorong beberapa ulama untuk merubah sistematika penulisan buku ini, menyusun ulang hadits-haditsnya dan membuang hadits-hadits yang berulang seperti yang dilakukan oleh Syeikh Muhammad 'Abid Al-Sindi dan Abu Sa'id Sanjar bin 'Abdillah Al-Jawili.[5] Syeikh Zainuddin 'Umar bin Ahmad Al-Syamma' Al-Halabi juga memilih hadits-hadits kitab ini lalu dimasukkan dalam bukunya yang berjudul "Al-Muntakhab Al-Mardhiyy min Musnad Al-Syafi'i".[6]

Meski bukan tulisan Al-Syafi'i, namun buku ini sangat popular di kalangan ulama Syafiiah. Mereka menulis banyak syarh (penjelasan) atas kitab "Musnad Al-Syafi'i", misalnya Imam Mubarak bin Muhammad Ibn Al-Atsir dengan bukunya "Al-Syafi Syarh Musnad Al-Syafi'i" dan Imam Muhaqqiq Al-Mazhab Abu Al-Qasim Abd Al-Karim bin Muhammad Al-Rafi'i (w. 623 H) dalam "Syarh Musnad Al-Syafi'i" di akhir kitab "Al-Syarh Al-Kabir". Kedua syarh ini kemudian digabungkan oleh Abu Sa'id Sanjar bin 'Abdillah Al-Jawili dalam "Al-Durr Al-Nafis fi Syarh Ta'lif Musnad Al-Syafi'i Muhammad bin Idris".[7] Imam Al-Suyuthi juga menulis "Al-Syafi Al-'Iyy 'ala Musnad Al-Syafi'i'.

Ingin Tahu Hadis-hadis Al-Syafii?

Nah, setelah kita mengetahui hakikat ini, jelaslah bahawa mengukur pengetahuan Hadis Imam Al-Syafii hanya dengan Kitab Musnad; lalu menyimpulkan bahawa Al-Syafii tidak mengetahui sesebuah hadis, hanya karena hadis itu tidak tercantum di dalam kitab ini,  suatu kesalahan besar.

Sebaliknya, siapa yang ingin mengetahui hadis-hadis yang dimiliki oleh Al-Syafii, dia harus memeriksa semua buku-buku karangan beliau. Sebab Al-Syafii selalu meyebutkan hadis setiap kali berhujah untuk menetapkan suatu hukum. Buku-buku itu meliputi karangannya di Baghdad (mazhab qadim) dan karanganya di Mesir (mazhab jadid). Kebanyakan buku-buku itu pada saat ini telah hilang, namun seringkali dinukil oleh ulama-ulama hadis dan fiqh setelahnya. Imam Al-Baihaqi lalu mengumpulkan sebahagian besar hadis-hadis tersebut dalam kitabnya Ma'rifat Al-Sunan Wal- Atsar.

Al-Baihaqi juga menceritakan bahwa Al-Syafi'i pernah menulis kitab "Al-Sunan" yang diriwayatkan oleh Harmalah bin Yahya dan Isma'il bin Yahya Al-Muzani. Berkata Al-Baihaqi: "Di dalamnya terdapat tambahan hadits, atsar dan masalah-masalah yang cukup banyak.[8] Namun hingga saat ini hanya buku riwayat Al-Muzani yang dapat ditemukan, anak saudaranya yang bernama Abu Ja'far Al-Thahawi meriwayatkan buku itu dari Al-Muzani dari Al-Syafi'i. Kitab itu kemudian dicetak dengan judul "Al-Sunan Al-Ma'tsurat" dan dipublikasikan pertama kali di Haidarabad (India) juga di Kairo kira-kira pada tahun 1315 H. Dr Ibrahim Mulla Khathir kemudian mencetak ulang kitab ini dalam tiga jilid di Damaskus, Syria.

Setelah anda mengkaji semua buku-buku ini, namun tidak menemukan hadis itu juga, anda bebas berkata: "Sepertinya Al-Syafii tidak mengetahui hadis ini."

Namun begitu, suka saya ingatkan kembali ucapan Ibn Khuzaimah untuk diambil kira: "Aku tidak menemukan sebuah hadits yang sahih namun tidak disebutkan Al-Syafii dalam kitab-kitabnya.” Mengomentari ucapan ini, Al-Nawawi berkata, “Kebesaran Ibn Khuzaimah dan keimamannya dalam hadits dan fiqh, serta penguasaanya akan ucapan-ucapan Al-Syafii, sangat terkenal.”[9]

_____________________________________
notes:


[1]  Lihat "Bayan Khatha' man akhtaa 'ala Al-Syafii", Imam Al-Baihaqi,  hal. 95. Di kitab ini, ia berkata bahwa penulisnya adalah Abu 'Amr bin Mathar. Sementara di "Ma'rifat Al-Sunan wa Al-Atsar" 2/159 ia mengatakan bahwa penulisnya Abu Al-'Abbas Al-Asham.
[2]  Lihat "Al-Syafi Syarh Musnad Al-Syafi'i" 1/30, "Al-Durr Al-Nafis fi Syarh Ta'lif Musnad Al-Syafi'i Muhammad bin Idris" karya Sanjar Al-Jawili, manuskrip Maktabah Al-Asad Damaskus no. 9288, jilid I lembaran 3/b-5/b, "Siyar A'lam Al-Nubala" 12/589, "Kasyf Al-Zhunun" 2/1683.
[3]  Lihat "Thabaqat Al-Fuqaha Al-Syafi'iyyin" 1/246, "Ta'jil Al-Manfa'ah" 1/238, "Al-Dha'u Al-Lami li Ahl Al-Qarn Al-Tasi''" 8/10, "Al-Risalah Al-Mustathrafah", Al-Kattani, hal. 17.
[4]  "Al-Syafi Syarh Musnad Al-Syafi'i" 1/30. "Al-Durr Al-Nafis" jilid I, lembaran 4/a-4/b.
[5]  "Tarikh Al-Adab Al-'Arabi", Dr Fuad Seizqin, 3/296. Kitab Syeikh Al-Sindi sudah dicetak dan dipublikasikan dalam satu jilid besar. Kitab Al-Jawili sebenarnya adalah penyusunan ulang kitab Musnad Al-Syafii dan penjelasan hadits-haditsnya sebagaimana yang akan disebut setelah ini. Kitab ini diterbitkan oleh Dar Al-Basya'ir di Beirut pada tahun 2005 M dengan suntingan Dr Rif'at Fauzi Abd Al-Muthalib dalam tiga jilid besar. Namun saya melihat kitab ini hanya menyebutkan hadits-hadits saja tanpa syarh-nya. Saya rasa penerbit tidak menyertakan syarh-nya ini dengan sengaja sebab mereka meletakkan judul buku ini "Musnad Al-Syafii bi Tartib Sanjar", berbeda dengan judul asli yang diberikan penulisnya sebagaimana yang akan disebutkan setelah ini.
[6]  "Kasyf Al-Zhunun", Haji Khalifah, 2/1683.
[7]  Demikian nama buku ini sebagaimana yang diberikan oleh penulisnya di mukaddimah. Buku berharga ini masih berbentuk manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Al-Asad Damaskus Syria dengan nomor 9288. Buku ini sangat besar, kira-kira berjumlah tiga ratus halaman (itupun saya rasa belum mencakup semua kitab) dengan tulisan yang sangat jelas dan bagus. Setiap hadits yang ia jelaskan dimulai dengan mengutip ucapan Al-Rafi'i, lalu ucapan Ibn Al-Atsir, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan ulama-ulama lain, seperti Imam Nawawi dalam "Syarh Muslim", yang berkenaan dengan hadits ini. Singkat kata, buku ini cukup penting dan sangat layak untuk diterbitkan.
[8]  "Manaqib Al-Syafi'i", al-Baihaqi, 1/255.
[9] "Majmuk Syarh Muhaddzab", Al-Nawawi, jilid pertama, hal. 105.

2 comments:

  1. Jaza kallahu Khoir, dengan penjelasan anta. Ramai juga terkeliru tanpa mengetahui. Huraian yang begitu baik sekali. Masihkah kita mahu bertaqlid pada sesuatu Manhaj??

    ReplyDelete