Tuesday, March 8, 2011

'URWAH BIN ZUBEIR

Pada kesempatan kali ini, saya akan bercerita tentang seorang ulama ahli hadis dan fiqh di Madinah dari kalangan tabiin. Beliau adalah ‘Urwah bin Al-Zubeir bin Awwam.  Bapanya adalah Al-Zubeir bin Al-‘Awwam seorang sahabat Nabi Saw dan termasuk dalam senarai 10 orang yang dijamin masuk syurga oleh Rasulullah Saw. Manakala ibunya, iatu Asma binti Abu Bakar, adalah puteri pertama sayyidina Abu Bakar Siddiq, dan kakak Siti Aisyah isteri kesayangan Baginda Nabi Saw.

Sejak kecil, ‘Urwah tinggal di rumah Siti Aisyah. Dan dari beliaulah ‘Urwah menimba hadis, tafsir, fiqh, faraid dan berbagai ilmu lainnya. Sehingga apabila beliau dewasa, ‘urwah ia diakui sebagai salah seorang daripada tujuh fuqaha Madinah (al-fuqaha al-sab’ah) yang menjadi rujukan fatwa pada masa itu. ‘Urwah bin Al-Zubeir meninggal dunia pada tahun 94 H.

Saya menemukan salah satu kisah yang menarik untuk saya kongsikan kepada pendengar pada petang hari ini. Kisah ini terdapat di dalam kitab “Wafayat Al-A’yan” karya Ibn Khillikan, juga kitab “Siar A’lam Al-Nubala” karya Imam Al-Dzahabi.

Suatu hari ‘Urwah diundang oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik untuk datang ke istananya di Syam. ‘Urwah segera memenuhi jemputan tersebut lalu berangkat dari Madinah ke Syam. Di tengah perjalanan, ‘Urwah merasakan sesuatu penyakit di kakinya. Tidak lama kemudian, timbul sebuah bisul di kakinya itu yang lalu pecah dan menjadi sebuah luka.

Setibanya di Syam, Khalifah Al-Walid mendatangkan seorang tabib untuk memeriksa luka tersebut. Setelah memeriksa penyakit itu dengan seksama, tabib menyimpulkan bahwa luka tersebut sebuah infeksi yang harus segera ditangani, sebab jika tidak segera dihentikan, ia akan menyebar ke seluruh badan. Tabib itu menambahkan, satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran infeksi itu adalah dengan memotong kaki tersebut.

Singkat cerita, ‘Urwah setuju kakinya dipotong. Tabib lalu meminta agar ia meminum obat bius terlebih dahulu sebelum pemotongan dilakukan agar ia tidak merasakan sakit, tapi ‘urwah menolaknya. Beliau memilih tetap berada dalam kesadaran sehingga dapat mengingati Allah meski harus merasakan kepedihan yang sangat.

Akhirnya, jadilah tabib itu memotong kaki ‘Urwah dengan gergaji, sementara ‘Urwah dengan penuh kesabaran menyaksikan hal itu tanpa mengeluarkan suara kesakitan.

Pada saat yang sama, seorang anak ‘Urwah yang ikut bersamanya dalam perjalanan tersebut mengalami sebuah kemalangan. Seekor keldai menendangnya hingga mati. Apabila  mendengar berita sedih ini, ‘Urwah tidak memberi komen apa-apa.

Baru ketika dalam perjalanan pulang ke Madinah, ‘Urwah terdengar berdoa seperti ini: “Ya Allah, Engkau memberiku tujuh orang anak. Jika Engkau mengambil satu orang daripada mereka, maka Engkau masih meninggalkan enam lainnya. Dan Engkau memberiku empat anggota (dua tangan dan dua kaki). Jika Engkau mengambil salah satu daripadanya, maka Engkau masih meninggalkan tiga lainnya.”

Masya Allah, tokoh besar ini masih dapat menemukan alasan untuk memuji Allah meski dalam musibah yang sangat memilukan hati. Tidak banyak orang yang tetap dapat menjaga pikiran positif, apalagi bersyukur kepada Allah, di tengah hantaman musibah yang bertubi-tubi. Hanya orang yang memiliki sifat redha kepada Allah sahaja yang dapat melakukan hal itu.

 (Diambil dari artikel saya di kolum Mahmudah Majalah Solusi)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment